Praktikum Lapangan Metode Non-Seismik, Pacitan 2013

Workshop Metode Gravitasi, Geomagnetik, AMT, VLF, Geolistrik dan Induced Polarization.

Kuliah Lapangan Geologi Bayat, Maret 2012

Pemetaan Geologi daerah Bayat dan sekitarnya, Geofisika-Geologi UGM.

Workshop Fisika Gunungapi, Kamojang 2014

Akuisisi Data Gravitasi dengan Gravimeter LaCoste-Romberg.

HMGF UGM 2013

Pengurus Himpunan Mahasiswa Geofisika, Universitas Gadjah Mada Periode 2013.

Pos Angkatan 2010, The Royal Blue

Orientasi Pengenalan Medan Geofisika 2013, Kowe Kudu Semangat.

Rabu, 14 Mei 2014

Sekilas tentang Anomali AVO pada Data Seismik

Gambar (1) Penampakan anomali AVO pada hasil ekstraksi atribut Intercept-time-Gradient
(sumber : Seismic Reservoir Characterization, Veeken, 2007)

AVO atau Amplitude versus Offset dikenal juga sebagai AVA (Amplitude versus Angle-of-incidence) merupakan salah satu metode analisis data seismik pre-stack terhadap perubahan nilai amplitudo terhadap kenaikan offset/sudut datang. Anomali AVO didasarkan pada gejala teoritis dari amplitude refleksi yang secara normal akan semakin mengecil seiring dengan pertambahan jarak/pembesaran sudut datang, namun pada sebagian kasus pada data seismik dijumpai ketidakselarasan pada teori tersebut. Sehingga munculah anomali AVO. 
Perumusan matematika fisis dari anomali AVO telah banyak dikembangkan oleh beberapa ahli diantaranya adalah beberapa persamaan (Aki-Richards, Shuey, Hilterman, dll) yang kerap kali digunakan sebagai dasar landasan teori pada penelitian tentang AVO. Tentu saja rumit :D

Pada Gambar (1) Data seismik poststack yang diekstrak atribut Intercept-times-Gradient yang dihitung dari persamaan dari crossplot antara Amplitude-sin kuadrat sudut datang (θ) menunjukkan adanya anomali pada top reservoir gas. Anomali tersebut juga tampak pada penampang seismik (time-offset-amplitude) sebagai DHI (Direct Hydrocarbon Indicator) berupa Bright spot dan Flatspot (Gambar (2)) dan hasil ekstraksi atribut Fluid Factor (Gambar (3)).

Gambar (2) DHI pada data seismik post-stack akibat adanya efek hidrokarbon
(sumber : Seismic Reservoir Characterization, Veeken, 2007)
Gambar (3) Hasil ekstraksi atribut Fluid factor menunjukkan anomali pada top gas reservoir
(sumber : Seismic Reservoir Characterization, Veeken, 2007)

Jadi, DHI pada penampang data seismik akan berkorelasi dengan anomali pada atribut intercept-times-gradient dan fluid factor jika pada data seismik tersebut menampakkan anomali AVO akibat adanya efek kehadiran hidrokarbon.

Secara singkat, anomali AVO terbagi menjadi beberapa kelas, yaitu :

  1. Anomali Kelas 1, ditandai dengan nilai refleksi kuat di awal (R0) (sudut datang nol) yang bernilai positif, tetap bernilai positif seiring dengan kenaikan offset/jarak. Anomali kelas ini akan memunculkan efek dimming pada data stack. Anomali AVO kelas ini seringkali berkorelasi dengan reservoir yang tight (ketat) dengan tingkat sementasi yang tinggi. 
  2. Anomali Kelas 2, ditandai dengan nilai refleksi lemah di awal (R0) yang bernilai positif yang kemudian berubah menjadi negatif seiring dengan kenaikan offset/jarak. Anomali kelas ini seringkali disertai dengan pembalikan polaritas. Efek pada anomali kelas ini seringkali berkorelasi dengan reservoir gas sand. 
  3. Anomali Kelas 3, ditandai dengan R0 yang bernilai negatif dan akan semakin negatif seiring dengan kenaikan offset, efek ini akan memunculkan efek bright spot pada data penampang seismik. Anomali kelas ini seringkali berkorelasi dengan batas atas dari reservoir gas sand. 
  4. Anomali Kelas 4, ditandai dengan refleksi awal (R0) negatif yang kuat dan melemah seiring dengan naiknya offset namun masih tetap bernilai negatif. Sulit dibedakan (dimming effect) pada penampang seismik post-stack. Anomali kelas ini hampir mirip dengan anomali kelas 1, jarang ditemukan dan berkorelasi dengan unconsolidated sand. 
Gambar (4) Klasifikasi kelas anomali AVO berdasarkan nilai amplitude dan perubahannya terhadap sudut datang
(sumber : Seismic Reservoir Characterization, Veeken, 2007)


Gambar (5) Anomali AVO kelas 2 (Gas Sand) pada nilai rasio Vs-Vp
Perubahan nilai Vs yang drastis akibat kehadiran fluida (gas)
(sumber : Seismic Reservoir Characterization, Veeken, 2007)

Untuk melanjutkan kebingungan pembaca sekalian dapat melihat-lihat sejenak tentang teori AVO pada pdf ini
:D
sekian dulu, nanti dilanjut lagi ya...

Bahan bacaan : 
Veeken, Paul (2007) Seismic stratigraphy, Basin Analysis and Reservoir Characterization
Mavko, Mukerji & Dvorkin (1998) The Rock Physics handbook

Sabtu, 10 Mei 2014

Interpretasi Well Log (Bagian 5) - Log Tahanan Jenis (Bagian 2)

Pada postingan sebelumnya saya telah bercerita tentang apa itu log tahanan jenis sampai ke lingkungan akuisisi data log nya. pada bagian kedua saya akan melanjutkan ke bagian interpretasi :D
check this out!

Bagaimana bentuk data Log tahanan jenis ?
Secara umum, alat logging untuk log tahanan jenis akan mengambil data pada setiap zona (Flushed-Transisi/Annulus-Uninvaded). Masing-masing zona akan memiliki bacaan nilai tahanan jenisnya sendiri. Berangkat dari situlah kita dapat menginterpretasi zona-zona mana yang permeabel hingga mempediksi fluida yang mengisi zona tersebut.  
Gambar (1) Contoh type log Tahanan jenis
(sumber : Schlumberger Interpretation Principles&Application, 1989)

Bagaimana interpretasinya ?

Oke, sebelum masuk ke interpretasi (kualitatif maupun kuantitatif) ada baiknnya kita mengenali zona-zona yang menarik dari data log tahanan jenis terlebih dahulu :D


Pertama, zona tahanan jenis rendah, zona tahanan jenis rendah kerap kali disebabkan karena adanya saturasi brine water atau clay/shale bound water. Brine water ini biasanya identik dengan air formasi yang memiliki salinitas tinggi, sehingga sangat memungkinkan jika nilai tahanan jenisnya sangat kecil, biasanya dijumpai pada formasi yang permeabel (ada separasi antara log tahanan jenis shallow-medium-deep). Sedangkan Shale/clay bound water adalah fluida yang terjebak dalam claystone/batulempung atau shale. Karena batuan tersebut tidak permeabel, maka tidak akan dijumpai separasi antara log tahanan jenis shallow-medium-deep. 

Gambar (A) Zona Tahanan jenis rendah pada zona tidak permeabel. 
Gambar (A) menunjukkan zona clay/shale dimana pencirinya adalah nilai log gamma ray yang tinggi dan tidak adanya separasi antara log tahanan jenis shallow-medium-deep. Artinya adalah zona tersebut bukanlah zona permeabel, dan fluida yang mengisi adalah shale/clay bound water.

Gambar (B) Zona Tahanan jenis rendah pada zona permeabel.
Gambar (B) menunjukkan adanya zona permeabel dengan saturasi fluida brine, ditandai dengan nilai log gamma ray yang rendah dan adanya separasi antara log tahanan jenis shallow-medium-deep serta nilai pembacaannya yang kecil. 

Kedua, zona tahanan jenis tinggi. Zona tahanan jenis tinggi terbagi menjadi dua (sama seperti tahanan jenis rendah). Yang pertama adalah zona permeabel yang tersaturasi hidrokarbon, dan yang kedua adalah zona impermeabel yang merupakan lapisan batubara/coal. 

Gambar (C) Zona Tahanan jenis tinggi pada lapisan batubara/coal
Gambar (C) diprediksi adalah lapisan batubara dengan ciri type log gamma ray nya yg mencuat rendah secara tiba-tiba kemudian tinggi lagi (shale-coal-shale, biasanya seringkali muncul pada lingkungan pengendapan transisi/delta) dengan tidak adanya separasi antara  log tahanan jenis shallow-medium-deep dengan nilai tahanan jenis deep yang relatif lebih tinggi. Pada interpretasi zona/lapisan coal perlu diperhatikan efek tahanan jenis tinggi yang muncul akibat terjadinya caving pada lubang bor, sehingga jangan lupa di cek kembali log calipernya. 
Gambar (D-1) Zona Tahanan jenis tinggi pada lapisan permeabel tersaturasi hidrokarbon

Gambar (D-2) Zona Tahanan jenis tinggi pada lapisan permeabel tersaturasi hidrokarbon
 Gambar (D) dapat diinterpretasikan sebagai zona permeabel dengan saturasi hidrokarbon. hal ini diindikasikan dengan nilai log gamma ray yang relatifrendah dan adanya separasi  antara  log tahanan jenis shallow-medium-deep, serta bacaan yang relatif cukup besar.
Nah, sudah ada pencerahan kan dalam interpretasi log tahanan jenis ?

Bahan bacaan :
Schlumberger Interpretation Principles&Application, 1989
Malcolm Rider, The Geological Interpretation of Well Logs 2nd Edition, 2000
dll.

Kamis, 08 Mei 2014

Interpretasi Well Log (Bagian 5) - Log Tahanan Jenis (Bagian 1)

Mari kita lanjutkan bahasan tentang interpretasi well log :D
Pada postingan kali ini saya akan membahas mengenai log tahanan jenis/log resistivitas/resistivity log.
Log tahanan jenis ini adalah salah satu data log yang sangat vital keberadaannya dalam evaluasi sumur.
Kok bisa ?
yaiyalah... mau tau kenapa ? mari kita lanjutkan :D


Apa sih tahanan jenis itu ?
Mungkin sebagian dari kita sudah mengenal yang namanya RESISTOR ya :D
sebagian dari kita yang sudah mengenyam mata pelajaran elektronika dasar, dari zaman SMP, SMA hingga berpusing-pusing ria di bangku kuliah dan belajar tentang fisika elektronika dan sejenisnya pasti mengenal komponen elektronika yang satu ini. Tahanan jenis dalam arti fisis berarti nilai dari ketahanan suatu medium untuk menghambat aliran listrik yg mengalir melewatinya. Nilai tahanan jenis suatu medium sudah tidak terpengaruh bentuk, ukuran, dan posisi medium. 
Resistor dengan gelang warna
(sumber : Wikipedia)

Bagaimana akuisisi log tahanan jenis ?
Proses akuisisi data log tahanan jenis terbagi menjadi 2, berdasarkan jenis alat dan prinsip kerja yang digunakan yaitu, Laterolog dan Log Induksi . Apa perbedaannya ?
Laterolog itu mirip dengan akusisi metode geolistrik konfigurasi wenner/dipole-dipole. Secara prinsip adalah dengan menginjeksi arus dari elektroda arus/transmitter kedalam dinding lubang bor dan membaca beda potensial pada elektroda potensial/receiver.
Sedangkan log induksi mirip dengan akuisisi metode EM, gelombang EM yang kita ciptakan akan menginduksi medium pada dinding lubang bor dan menimbulkan adanya medan EM sekunder atau Arus Eddy. Medan listrik dan medan magnet yang terbaca akan mewakili medium yang terinduksi. Mirip dengan teori tentang Cagniard resistivity, kita dapat menurunkan besaran tahanan jenis dari gelombang EM. 
Skema alat Log Tahanan jenis dengan metode Log Induksi
(sumber : Doll (1949) dalam Ellis dan Singer, 2008)

Apa bedanya antara Laterolog dan Log Induksi ?

Dari hasil yang didapat secara umum sama. hasil dari kedua jenis alat log tahanan jenis tsb adalah data nilai tahanan jenis dari 3 zona medium (lapisan batuan/formasi) disepanjang lubang bor. Munculnya ide untuk menggunakan induksi EM adalah saat perusahaan jasa logging pada masa itu menemukan zona yg punya tekanan formasi sangat kuat, sehingga dibutuhkan lumpur pemboran yg dapat menahannya. Maka, digunakanlah lumbur dengan base oil. Kekurangannya dibanding water base mud adalah, mud cake akan punya tahanan jenis sangat tinggi, sehingga penetrasi arus laterolog akan tidak maksimal, maka muncullah alat log baru "Log induksi" .
tapi dimasa modern, bukan tidak mungkin penggunaan alat tersebut telah banyak mengalami peningkatan teknologi, sehingga keperluannya lebih ke urgensi data dibanding dari prinsip alatnya.
udah jelas kan perbedaannya ??? :D


Bagaimana lingkungan akuisisi datanya ?
Inilah bedanya log tahanan jenis dengan log lainnya.
Log tahanan jenis mengakuisisi data sepanjang lubang bor dengan bantuan filtrasi lumpur pemboran. Karena selama proses pengeboran lumpur akan masuk ke zona-zona permeabel, sehingga akan terbentuk kerak lumpur (mud cake) yang bisa juga digunakan sebagai indikator zona permeabel. Akibatnya, pembacaan log tahanan jenis akan terbagi menjadi zona-zona berdasarkan kedalaman penetrasi arus dan bidang ekuipotensialnya. Pada lapisan permeabel, bidang ekuipotensial tersebut terbagi menjadi 3 (secara umum, ada juga yg bilang 4 berdasarkan jenis fluida yg mengisi) :

Zonasi akibat filtrasi lumpur pemboran
(sumber : Schlumberger Log Interpretation)


  1. Zona Flushed , pada zona ini hampir semua fluida asli penghuni formasi telah tergantikan oleh filtrasi lumpur pemboran. akibatnnya yang tebaca adalah tahanan jenis kerak lumpur. Pada zona yang mengandung hidrokarbon, efek residual hidrokarbon juga akan sedikit terbaca pada nilai tahanan jenis pada zona ini. 
  2. Zona Transisi, pada zona ini pembagian fluida adalah (nyaris) 50-50. sehingga mulai muncul efek dari keberadaan fluida formasi yang sebenarnya. 
  3. Zona Uninvaded/Tak terinvasi, pada pembacaan log tahanan jenis zona inilah kita dapat menginterpretasi fluida formasi yang sebenarnya. Tahanan jenis yang besar pada zona permeabel untuk bacaan log ini bisa mengindikasikan adanya hidrokarbon yang tersaturasi. 
Bersambung ke bagian 2 :D

bahan bacaan :
Ellis & Singer, 2008, Well Loging for Earth Scientist.

Senin, 05 Mei 2014

Geologi Regional Cekungan Jawa Barat Utara

Oke, kali ini saya akan memberikan sedikit ulasan tentang salah satu cekungan yang cukup besar kontribusinya dalam produksi Minyak dan Gas Bumi dalam negeri, khususnya yang dikelola oleh instansi milik bangsa :p
Berhubung saya juga baru saja mengulik tentang materi ini dan masih 'fresh' ,So silahkan buat yang mau meng-copy-paste dari sini untuk dijadikan tinjauan geologi dalam penulisan ilmiah, paper, jurnal atau skripsi :D

asalkan dicantumkan sumber dan pustakanya :D


A. Ulasan Singkat Geologi Regional
Cekungan Jawa Barat Utara telah dikenal sebagai hydrocarbon province utama di wilayah Pertamina DOH JBB, Cirebon. Cekungan ini terletak di antara Paparan Sunda di Utara, Jalur Perlipatan – Bogor di Selatan, daerah Pengangkatan Karimun Jawa di Timur dan Paparan Pulau Seribu di Barat. Cekungan Jawa Barat Utara dipengaruhi oleh sistem block faulting yang berarah Utara – Selatan. Patahan yang berarah Utara - Selatan membagi cekungan menjadi graben atau beberapa sub-basin, yaitu Jatibarang, Pasir Putih, Ciputat, Rangkas Bitung dan beberapa tinggian basement, seperti Arjawinangun, Cilamaya, Pamanukan, Kandanghaur–Waled, Rengasdengklok dan Tangerang. Berdasarkan stratigrafi dan pola strukturnya, serta letaknya yang berada pada pola busur penunjaman dari waktu ke waktu, ternyata cekungan Jawa Barat telah mengalami beberapa kali fase sedimentasi dan tektonik sejak Eosen sampai dengan sekarang (Martodjojo, 2002). 

B. Tektonostratigrafi dan Struktur Geologi

Cekungan Jawa Barat Utara terdiri dari dua area, yaitu laut (offshore) di Utara dan darat (onshore) di Selatan (Darman dan Sidi, 2000). Seluruh area didominasi oleh patahan ekstensional (extensional faulting) dengan sangat minim struktur kompresional. Cekungan didominasi oleh rift yang berhubungan dengan patahan yang membentuk beberapa struktur deposenter (half graben), antara lain deposenter utamanya yaitu Sub-Cekungan Arjuna dan Sub-Cekungan Jatibarang, juga deposenter yang lain seperti : Sub-Cekungan Ciputat, Sub-Cekungan Pasirputih. Deposenter-deposenter itu didominasi oleh sikuen Tersier dengan ketebalan melebihi 5500 m.
Struktur yang penting pada cekungan tersebut yaitu terdiri dari bermacam-macam area tinggian yang berhubungan dengan antiklin yang terpatahkan dan blok tinggian (horst block), lipatan pada bagian yang turun pada patahan utama, keystone folding dan  mengena pada tinggian batuan dasar. Struktur kompresional hanya terjadi pada awal pembentukan rift pertama yang berarah relative barat laut-tenggara pada periode Paleogen. Sesar ini akan aktif kembali pada Oligosen. Tektonik Jawa Barat dibagi menjadi tiga fase tektonik yang dimulai dari Pra Tersier hingga Plio-Pliostosen. Fase tektonik tersebut adalah sebagai berikut :
1.      Tektonik Pertama
Pada zaman Akhir Kapur awal Tersier, Jawa Barat Utara dapat dilkasifikasikan sebagai  ‘Fore Arc Basin’ dengan dijumpainya orientasi struktural mulai dari Cileutuh, Sub Cekungan Bogor, Jatibarang, Cekungan Muriah dan Cekungan Florence Barat yang mengindikasikan kontrol ‘Meratus Trend’. Periode Paleogen (Eosen-Oligosen) di kenal sebagai Paleogen Extensional Rifting. Pada periode ini terjadi sesar geser mendatar menganan utama krataon Sunda akibat dari peristiwa tumbukan Lempeng Hindia dengan Lempeng Eurasia. Sesar-sesar ini mengawali pembentukan cekungan-cekungan Tersier di Indonesia Bagian Barat dan membentuk Cekungan Jawa Barat Utara sebagai pull apart basin.
Tektonik ektensi ini membentuk sesar-sesar bongkah (half gnraben system) da merupakan fase pertama rifting (Rifting I :  fill phase). Sedimen yang diendapkan pada rifting I ini disebut sebagai sedimen synrift I. Cekungan awal rifting terbentuk selama fragmentasi, rotasi dan pergerakan dari kraton Sunda. Dua trend sesar normal yang diakibatkan oleh perkembangan rifting-I  (early fill) berarah N 60o W – N 40o W dan hampir N – S yang dikenal sebagai Pola sesar Sunda. Pada masa ini terbentuk endapan lacustrin dan volkanik dari Formasi Jatibarang yang menutup rendahan-rendahan yang ada. Proses sedimentasi ini terus berlangsung dengan dijumpainya endapan transisi Formasi Talangakar. Sistem ini kemudian diakhiri dengan diendapkannya lingkungan karbonat Formasi Baturaja.
2.      Tektonik kedua
Fase tektonik kedua terjadi pada permulaan Neogen (Oligo-Miosen) dan dikenal sebagai Neogen Compressional Wrenching. Ditandai dengan pembentukan sesar-sesar geser akibat gaya kompresif dari tumbukan Lempeng Hindia.Sebagian besar pergeseran sesar merupakan reaktifasi dari sesar normal yang terbentuk pada periode Paleogen.
Jalur penunjaman baru terbentuk di selatan Jawa. Jalur volkanik periode Miosen Awal yang sekarang ini terletak di lepas pantai selatan Jawa. Deretan gunungapi ini menghasilkan endapan gunungapi bawah laut yang sekarang dikenal sebagai “old andesite” yang tersebar di sepanjang selatan Pulau Jawa. Pola tektonik ini disebut Pola Tektonik Jawa yang merubah pola tektonik tua yang terjadi sebelumnya menjadi berarah barat-timur dan menghasilkan suatu sistem sesar naik, dimulai dari selatan (Ciletuh) bergerak ke utara. Pola sesar ini sesuai dengan sistem sesar naik belakang busur atau yang dikenal “thrust foldbelt system”.
3.      Tektonik Terakhir

Fase tektonik akhir yang terjadi adalah pada Pliosen – Pleistosen, dimana terjadi proses kompresi kembali dan membentuk perangkap-perangkap sruktur berupa sesar-sesar naik di jalur selatan Cekungan Jawa Barat Utara. Sesar-sesar naik yang terbentuk adalah sesar naik Pasirjadi dan sesar naik Subang, sedangkan di jalur utara Cekungan Jawa Barat Utara terbentuk sesar turun berupa sesar turun Pamanukan. Akibat adanya perangkap struktur tersebut terjadi kembali proses migrasi hidrokarbon.    
(Sayatan melintang fisiografi cekungan dan busur gunungapi Jawa Barat)
(sumber : Pertamina, 1996)

C. Stratigrafi Regional 
Stratigrafi umum Jawa Barat Utara berturut-turut dari tua ke muda adalah sebagai berikut:
1.      Batuan Dasar
Batuan dasar adalah batuan beku andesitik dan basaltik yang berumur Kapur Tengah sampai Kapur Atas dan batuan metamorf yang berumur Pra Tersier (Sinclair, et.al, 1995). Lingkungan Pengendapannya merupakan suatu permukaan dengan sisa vegetasi tropis yang lapuk (Koesoemadinata, 1980).
2.   Formasi Jatibarang
Satuan ini merupakan endapan early synrift, terutama dijumpai di bagian tengah dan timur dari Cekungan Jawa Barat Utara. Pada bagian barat cekungan ini kenampakan Formasi Jatibarang tidak banyak (sangat tipis) dijumpai. Formasi ini terdiri dari tufa, breksi, aglomerat, dan konglomerat alas. Formasi ini diendapkan pada fasies fluvial. Umur formasi ini adalah dari Kala Eosen Akhir sampai Oligosen Awal.  Pada beberapa tempat di Formasi ini ditemukan minyak dan gas pada rekahan-rekahan tuff (Budiyani, dkk, 1991).
3.   Formasi Talang Akar
Pada fase syn rift berikutnya diendapkan Formasi Talang Akar secara tidak selaras di atas Formasi Jatibarang. Pada awalnya berfasies fluvio-deltaic sampai faises marine. Litologi formasi ini diawali oleh perselingan sedimen batupasir dengan serpih nonmarine dan diakhiri oleh perselingan antara batugamping, serpih, dan batupasir dalam fasies marine. Pada akhir sedimentasi, Formasi Talang Akar ditandai dengan berakhirnya sedimentasi synrift. Formasi ini diperkirakan berkembang cukup baik di daerah Sukamandi dan sekitarnya. Adapun terendapkannya formasi ini terjadi dari Kala Oligosen sampai dengan Miosen Awal.
4.   Formasi Baturaja
Formasi ini terendapkan secara selaras di atas Formasi Talang Akar. Pengendapan Formasi Baturaja yang terdiri dari batugamping, baik yang berupa paparan maupun yang berkembang sebagai reef buildup manandai fase post rift yangs secara regional menutupi seluruh sedimen klastik Formasi Talang Akar di Cekungan Jawa Barat Utara. Perkembangan batugamping terumbu umumnya dijumpai pada daerah tinggian. Namun, sekarang diketahui sebagai daerah dalaman. Formasi ini terbentuk pada Kala Miosen Awal–Miosen Tengah (terutama dari asosiasi foraminifera). Lingkungan pembentukan formasi ini adalah pada kondisi laut dangkal, air cukup jernih, sinar matahari ada (terutama dari melimpahnya foraminifera Spriroclypens Sp).
5.   Formasi Cibulakan Atas
Formasi ini terdiri dari perselingan antara serpih dengan batupasir dan batugamping. Batugamping pada satuan ini umumnya merupakan batugamping kklastik serta batugamping terumbu yang berkembang secara setempat-setempat. Batugamping ini dikenali sebagai Mid Main Carbonate (MMC). Formasi ini diendapkan pada Kala Miosen Awal-Miosen Akhir. Formasi ini terbagi menjadi 3 Anggota, yaitu:
                   a)      Massive
Anggota ini terendapkan secara tidak selaras di atas Formasi Baturaja. Litologi anggota ini adalah perselingan batulempung dengan batupasir yang mempunyai ukuran butir dari halus-sedang. Pada massive ini dijumpai kandungan hidrokarbon, terutama pada bagian atas. Selain itu terdapat fosil foraminifera planktonik seperti Globigerina trilobus, foraminifera bentonik seperti Amphistegina (Arpandi dan Patmosukismo, 1975).
                   b)      Main
Anggota Main terendapkan secara selaras diatas Anggota Massive. Litologi penyusunnya adalah batulempung berselingan dengan batupasir yang mempunyai ukuran butir halus-sedang (bersifat glaukonitan). Pada awal pembentukannya berkembang batugamping dan juga blangket-blangket pasir, dimana pada bagian ini Anggota Main terbagi lagi yang disebut dengan Mid Main Carbonat (Budiyani dkk,1991).
                  c)      Pre Parigi
Anggota Pre Parigi terendapkan secara selaras diatas Anggota Main. Litologinya adalah perselingan batugamping, dolomit, batupasir dan batulanau. Anggota ini terbentuk pada Kala Miosen Tengah-Miosen Akhir dan diendapkan pada lingkungan Neritik Tengah-Neritik Dalam (Arpandi & Patmosukismo, 1975), dengan dijumpainya fauna-fauna laut dangkal dan juga kandungan batupasir glaukonitan.
 6.   Formasi Parigi
Formasi ini terendapkan secara selaras di atas Formasi Cibulakan Atas.. Litologi penyusunnya sebagian besar adalah batugamping klastik  maupun batugamping terumbu. Pengendapan batugamping ini melampar ke seluruh Cekungan Jawa Barat Utara. Lingkungan pengendapan formasi ini adalah laut dangkal–neritik tengah (Arpandi & Patmosukismo, 1975). Batas bawah Formasi Parigi ditandai dengan perubahan berangsur dari batuan fasies campuran klastika karbonat Formasi Cibulakan Atas menjadi batuan karbonat Formasi Parigi. Formasi ini diendapkan pada Kala Miosen Akhir-Pliosen.
7.   Formasi Cisubuh

Formasi ini terendapkan secara selaras di atas Formasi Parigi. Litologi penyusunnya adalah batulempung berselingan dengan batupasir dan serpih gampingan. Umur formasi ini adalah dari Kala Miosen Akhir sampai Pliosen – Pleistosen. Formasi diendapkan pada lingkungan laut dangkal yang semakin ke atas menjadi lingkungan litoral – paralik (Arpandi & Patmosukismo, 1975).

(Tabel Stratigrafi Cekungan Jawa Barat Utara)
(sumber : Pertamina, 1996)

D. Sedimentasi Cekungan
Periode awal sedimentasi di Cekungan Jawa Barat Utara dimulai pada kala Eosen Tengah – Oligosen Awal (fase transgresi) yang menghasilkan sedimentasi vulkanik darat – laut dangkal dari Formasi Jatibarang. Pada saat itu aktifitas vulkanisme meningkat. Hal ini berhubungan dengan interaksi antar lempeng di sebelah selatan Pulau Jawa, akibatnya daerah-daerah yang masih labil sering mengalami aktivitas tektonik. Material-material vulkanik dari arah timur mulai diendapkan.
Periode selanjutnya merupakan fase transgresi yang berlangsung pada kala Oligosen Akhir – Miosen Awal yang menghasilkan sedimen trangresif transisi – deltaik hingga laut dangkal yang setara dengan Formasi Talang Akar pada awal permulaan periode. Daerah cekungan terdiri dari dua lingkungan yang berbeda yaitu bagian barat paralic sedangkan bagian timur merupakan laut dangkal. Selanjutnya aktifitas vulkanik semakin berkurang sehingga daerah-daerah menjadi agak stabil, tetapi anak cekungan Ciputat masih aktif. Kemudian air laut menggenangi daratan yang berlangsung pada kala Miosen Awal mulai dari bagian barat laut terus ke arah tenggara menggenangi beberapatinggian kecuali tinggian Tangerang. Dari tinggian-tinggian ini sedimen-sedimen klastik yang dihasilkan setara dengan formasi Talang Akar.
Pada Akhir Miosen Awal daerah cekungan relative stabil, dan daerah Pamanukan sebelah barat merupakan platform yang dangkal, dimana karbonat berkembang baik sehingga membentuk setara dengan formasi Baturaja, sedangkan bagian timur merupakan dasar yang lebih dalam. Pada kala Miosen Tengah yang merupakan fase regresi, Cekungan Jawa Barat Utara diendapkan sediment-sedimen laut dangkal dari formasi Cibulakan Atas. Sumber sedimen yang utama dari formasi Cibulakan Atas diperkirakan berasal dari arah utara – barat laut. Pada akhir Miosen Tengah kembali menjauhi kawasan yang stabil,  batugamping berkembang dengan baik. Perkembangan yang baik ini dikarenakan aktivitas tektonik yang sangat lemah dan lingkungan berupa laut dangkal. Kala Miosen Akhir – Pliosen (fase regresi) merupakan fase pembentukan Formasi Parigi dan Cisubuh. Kondisi daerah cekungan mengalami sedikit perubahan dimana kondisi laut semakin berkurang masuk kedalam lingkungan paralik.
Pada Kala Pleistosen – Aluvium ditandai untuk pengangkatan sumbu utama Jawa. Pengangkatan ini juga diikuti oleh aktivitas vulkanisme yang meningkat dan juga diikuti pembentukan struktur utama Pulau Jawa. Pengangkatan sumbu utama Jawa tersebut berakhir secara tiba-tiba sehingga mempengaruhi kondisi laut. Butiran-butiran kasar diendapkan secara tidak selaras diatas Formasi Cisubuh.
Pustaka :
Amril, A., Sukowitono., Supriyanto., .1991. Jatibarang Sub Basin – a half Graben Model in the Onshoe of North West Java. IPA Proceedings, 20th Annual Convention, Jakarta. hal 279-307.
Arpandi, D., Patmosukismo, S., .1975 The Cibulakan Formation as One of the Most Prospective Stratigraphic Units in the Northwest Java Basinal Area. IPA Proceeding. Vol 4th Annual Convention. Jakarta
Budiyani,S., Priambodo, D.,Haksana, B.w.,Sugianto,P., .1991. Konsep Eksplorasi Untuk Formasi Parigi di Cekungan Jawa Barat Utara. Makalah IAGI. Vol 20th, Indonesia. hal 45-67.
Darman, H. dan Sidi, F.H.,. 2000. An Outline of The Geology of Indonesia. IAGI. Vol 20th. Indonesia
Gordon, T. L., .1985. Talang Akar coals Ardjuna subbasin oil source. Proceedings of the Fourteenth Annual Convention Indonesian Petroleum Association, v.2. hal. 91-120.
Hamilton, W., 1979, Tectonics of the Indonesian Region. USGS Professional Paper, 1078.
Hunt, J.M., .1979. Petroleum Geochemistry and Geology. xxi+617 pp., 221 figs. Oxford: Freeman.
Noble, Ron A.,. 1997. Petroleum System of Northwest Java Indonesia. Proceeding IPA. 26th Annual Convention. hal: 585 – 600.
Reminton. C.H., Nasir. H.,. 1986. Potensi Hidrokarbon Pada Batuan Karbonat Miosen Jawa Barat Utara. PIT IAGI XV. Yogyakarta
Sinclair, S., Gresko, M., Sunia, C.,. 1995. Basin Evolution of the Ardjuna Rift System and its Implications for Hydrocarbon Exploration, Offshore Northwest Java, Indonesia. IPA Proceedings, 24th .Annual Convention, Jakarta. hal 147-162. 

Rabu, 30 April 2014

Interpretasi Well Log (Bagian 4) - Log Sinar Gamma / Gamma Ray Log

Assalamu'alaikum!
Setelah sekian lama seri tulisan ini tertunda, saatnya saya lanjutkan cerita-cerita tentang interpretasi well log.
Seri kali ini adalah tentang Log Sinar Gamma, atau bahasa keren-nya adalah Log Gamma Ray (GR Log).
:D

Apa itu Log Gamma ray ?
Log gamma ray itu adalah salah satu jenis data log sumur yang isi datanya adalah rekaman jumlah material radioaktif yang berukuran sangat kecil yang ada dalam suatu lapisan batuan/formasi dalam lubang bor.

Kok bisa ada material radioaktif disana ?



 eittss, bukan radioaktif yg kaya di Chernobyl gitu ya... 
Jadi, di alam semesta ini kan banyak tuh unsur-unsur yang punya tingkat kestabilan isotop yang beda-beda. Setiap unsur yang tidak stabil bakalan berusaha buat men-stabil-kan diri mereka masing-masing dengan cara memancarkan energi dari dalam atomnya, nah pasti masih inget kan sinar alpha ,beta, gamma, dan teman-temannya? iya itu... mereka itu ada di batuan-batuan yang memiliki mineral-mineral dengan unsur logam-logam yang tidak stabil itu (biasanya sih batuan beku). 
Nah, sewaktu proses sedimentasi berlangsung, sebagian unsur-unsur radioaktif itu ikut tersedimentasi bersama 'rombongan' material klastika lainnya. Ukuran unsur-unsur radioaktif itu berada pada kisaran lanau sampai lempung. Kecil kan ? *ya iyalah*

Gimana cara ngambil datanya ?
Jadi, dalam kegiatan logging, dikenal alat yang namanya "Gamma Ray Scintillator Detector" .
alat tadi itu menangkap sinar radioaktif yang dipancarkan oleh unsur Potasium (K), Thorium (Th) dan Uranium (U) secara bersamaan dengan besar spektrum berkisar antara 0 hingga 3 MeV.
(Skema alat logging Natural Gamma Ray)
(sumber : Serra, 1984)

Sinar radioaktif tersebut akan ditangkap oleh sensor berupa kristal sintilator yang dilengkapi dengan penguat berupa photo multipler untuk menguatkan pancaran energi radioaktivitas. Energi yang terkumpul pada selang waktu pengukuran adalah nilai pembacaan log sinar gamma pada satu sampel pengukuran.Bingung kan ?*sama :'( 
Terus, Buat apa sih Log Gamma Ray itu ?
Dalam kegiatan evaluasi formasi (apa lagi itu?  --" hahaha), nilai yang terbaca sebagai log gamma ray ini digunakan sebagai 'alat' untuk menginterpretasikan jenis litologi sepanjang lubang bor. 
Kok bisa? 
Ya balik lagi ke atas, pada proses sedimentasi material akan terdeposisi berdasarkan ukuran butir. Saat energi transportasi masih cukup besar, 'rombongan' sedimen klastika akan diendapkan bertahap dari yang butirannya paling besar, sampai pada saat energi transportasi sudah hampir habis. Pada saat 'sekarat' energinya maka pada waktu itulah sebagian besar klastika lanau-lempung bersama dengan unsur-unsur radioaktif yang ada didalamnya akan diendapkan membentuk batulanau dan batulempung. 
Jadi, gak ada unsur radioaktif di batupasir / konglomerat/ Batugamping?
ya tetap ada... tapi jumlahnya gak sebanyak batulempung/batulanau/serpih..

Makanya, log gamma ray ini (lumayan) peka terhadap perubahan litologi. Jadi banyak digunakan sebagai parameter untuk quicklook zona yang prospek sebagai reservoir (ya minimal nyari batupasir / batugamping dulu lah...hahaha...)


Interpretasi kualitatif Log Gamma Ray 
(sumber : Rider, 2002)

Nah, itu dulu ya cerita tentang interpretasi Log Gamma ray nya... 
kalo masih kurang bingung, silahkan baca buku-buku dibawah ini aja, siapa tau bisa tambah bingung :D
Sekian dulu, sampai jumpa di seri berikutnya :D

sumber bacaan :
Rider, 2002, Geological interpretation of Well logs
Serra, 1984, Fundamental of Well log interpretation