Praktikum Lapangan Metode Non-Seismik, Pacitan 2013

Workshop Metode Gravitasi, Geomagnetik, AMT, VLF, Geolistrik dan Induced Polarization.

Kuliah Lapangan Geologi Bayat, Maret 2012

Pemetaan Geologi daerah Bayat dan sekitarnya, Geofisika-Geologi UGM.

Workshop Fisika Gunungapi, Kamojang 2014

Akuisisi Data Gravitasi dengan Gravimeter LaCoste-Romberg.

HMGF UGM 2013

Pengurus Himpunan Mahasiswa Geofisika, Universitas Gadjah Mada Periode 2013.

Pos Angkatan 2010, The Royal Blue

Orientasi Pengenalan Medan Geofisika 2013, Kowe Kudu Semangat.

Tampilkan postingan dengan label Petrofisika. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Petrofisika. Tampilkan semua postingan

Jumat, 11 Desember 2015

Interpretasi Well Log [Bagian 7 - selesai] - Log Sonic


Pernah main game SEGA ?? Pasti kenal dengan karakter diatas...
Berlari secepat gelombang suara.
That's why it called Sonic The Hedgehog :D

Well :D
Saya akan melanjutkan cerita tentang bagaimana menginterpretasikan data log, khususnya wireline log. Nah, kali ini saya akan bercerita tentang Log Sonic, juga sering disebut dengan Log Akustik.

Mengapa disebut Log akustik ?
Oke, sebelum kita berbicara lebih banyak tentang Log Sonic, mari kita kenali dulu Apa itu gelombang akustik. Gelombang akustik adalah sebuah getaran yang merambat yang bersumber dari getaran mekanik dan merambat pada sebuah medium. 
Log Sonic memakai prinsip kerja gelombang akustik, yaitu dengan memancarkan pulsa mekanik dengan jangkauan 10-40kHz dengan panjang gelombang 7,5 sampai 75 centimeter dalam jangkauan kecepatan 1500 sampai 7500 meter per sekon. Itulah mengapa Sonic The Hedgeog dinamai dengan "Sonic" (???)

Bagaimana alat log Sonic bekerja ?
Sistem pemancar gelombang sonic dari alat log sonic ini merupakan sebuah komponen magnetostriktif atau yang lebih sering digunakan adalah piezoelektrik. Dimana saat pulsa listrik dialirkan akan dikonversi oleh unit pemancar menjadi sebuah getaran ultrasonik. Dengan demikian gelombang akustik akan ditransmisikan kepada dinding lubang bor (dengan kecepatan rambat pada medium yang beragam, oleh karena itu akan ada perbedaan dalam penetrasi pada berbagai medium -dalam hal ini adalah batuan). Sementara itu, sistem penerima (receiver) adalah sebuah perangkat piezoelektrik yang dapat mengkonversi gelombang pressure menjadi signal EM dan kemudian di amplifikasi untuk memperjelas sinyal loging. (Buku Pak Rider, 2002)
ilustrasi sederhana alat log sonic, diambil dari buku "Well Logging for Earth Scientist"
(Ellis & Singer, 2007)
Lantas apa kegunaan log sonic itu ? 
Nah, dengan mentransmisikan gelombang akustik dan kemudian menangkapnya kembali, para teknisi logging dapat menghitung jeda waktu antara signal dipancarkan dengan sinyal ditangkap, dimana nanti akan lebih banyak disebut dengan istilah DELTA T. Dengan mengetahui Delta T, maka teknisi loging dapat menghitung kecepatan rambat gelombang akustik pada medium tersebut. 
Dengan persamaan pada gambar diatas, setiap feet/meter dari dinding lubang bor yang dilewati oleh alat loging akan dihitung Delta T nya dimana satu per Delta T adalah Kecepatan rambat gelombang akustik pada medium tersebut.
Setelah dapat kecepatan ranbat bla bla bla, lalu digunakan untuk apa?
Nah, setelah proses loging selesai, dan hasil perhitungan kecepatan rambat gelombang akustik didapat, maka kita dapat melakukan estimasi porositas berdasarkan beberapa konsep yang telah dikembangkan. Salah satunya adalah Konsep yang dikembangkan oleh Pak Wyllie dan kawan-kawannya pada tahun 1956. Pak Wyllie mengembangkan suatu konsep bahwa keberadaa pori akan mempengaruhi variasi kecepatan rambat gelombang akustik pada medium tersebut, terlebih lagi jika terdapat fluida yang mengisinya. Konsep ini kemudian diturunkan dalam persamaan matematis seperti ini : 
Persamaan yang menggambarkan hubungan antara kecepatan, jeda waktu (delta T) dengan porositas
(Buku Pak Rider, 2002)
 Dari persamaan Pak Wyllie tadi kita dapat mengestimasi nilai porositas tentu saja dengan mendapatkan parameter-parameter yang berkaitan dengannya, seperti Delta T pada matriks dan fluida tertentu. Untuk penentuan nilainya, metode yang diterapkan pada pembahasan sebelumnya (Log Densitas dan Log Neutron bagian kedua) dapat diterapkan pada Log Sonic. 
Nah, dari cerita diatas kita dapat membayangkan bagaimana log sonic bekerja dalam lingkungan lubang bor hingga kemudian dihitung menjadi nilai porositas. Namun perlu diingat, bahwa semua perhitungan atau apapun yang sifatnya kuantitas dalam menghitung nilai parameter petrofisika sejatinya adalah sebuah estimasi. Terdapat perambatan error juga, apabila parameter yang digunakan untuk proses perhitungannya terdapat kesalahan, maka tentusaja hasil yang didapat juga perlu ditinjau ulang. Dan selalu, untuk para petropisisis atau geosaintis yang berkutat dan tertarik pada bidang ini, perlu ditanamkan bahwa data yang terbaik dalam lingkup penelitian eksplorasi dan produksi Migas tentunya adalah data core dari sumur yang sudah berproduksi :D

Selamat belajar :D
Semoga bermanfaat :D

Kamis, 10 Desember 2015

Interpretasi Well Log [Bagian 6] - Log Densitas dan Log Neutron [Bagian 2 - selesai]

Melanjutkan tulisan sebelumnya tentang interpretasi log densitas dan log neutron. Sekedar mengingatkan, mengapa saya menggabungkan kedua log ini dalam satu tulisan. Pertama, karena prinsip kerja alat log ini dalam akuisisi menggunakan komponen yang sama, yaitu radioaktif. Yang kedua, karena umumnya kegunaan log ini adalah saling melengkapi dalam estimasi nilai porositas suatu reservoir migas :D

Mari kita lanjutkan.
Nah, pada tulisan sebelumnya saya banyak membahas mengenai konsep dasar, prinsip kerja alat dan sedikit tentang interpretasi kasar dan kualitatif, pada bagian kedua ini saya akan menambahkan sedikit tentang interpretasi, namun lebih ke arah kuantitatif. 
:D

So, brace yourself for the Equations !!!

Baiklah, untuk permulaan mari kita ingat-ingat lagi rumus dasar porositas. Eh sebentar, apa itu porositas ?
Porositas adalah bagian dari volume batuan yang tidak terisi oleh benda padat.
(Adi Harsono, 1997)
Nah, sederhananya porositas itu dapat diperoleh dari selisih antara volum total (bulk - Vb) terhadap volum butir (grain - Vgr -benda padat), karena biasanya orang orang perminyakan lebih suka menilai porositas sebagai prosentase jadi kita bisa menyimpulkan bahwa porositas adalah rasio antara volume pori terhadap volume total, yang mana volume pori (Vp) tersebut adalah selisih yg kita bahas sebelumnya. apabila kita bawa ke ranah matematis, maka porositas dapat dijabarkan dalam persamaan berikut : 

Pasti sering liat persamaan ini kan ?
(diambil dari buku Petrophysics Tiab dan Donaldson, 2004)
Kemudian banyak sekali limuwan yang terinspirasi dari persamaan dasar tersebut dan mengembangkan persamaan-persamaan baru dari hasil eksperimen mereka, salah satunya adalah dengan memanfaatkan data log densitas dan log neutron ini. Nah, dari sekian banyak rumus untuk menghitung porositas, mari kita coba bahas sedikit tentang rumus Porositas mulai dari log densitas, log neutron sampai kombinasi log densitas dan log neutron.

1. Porositas dari Log densitas 

Untuk memahami kuantifikasi porositas dari nilai densitas, terlebih dahulu kita harus memahami definisi porositas, sebagaimana dijelaskan pada cuplikan buku Pak Rider dibawah ini :
Rider, 2002
Nah, kita dapat simpulkan bahwa untuk mendapatkan nilai porositas, perlu diketahui densitas matriks (single matrix, double matrix atauh bahkan multiple matrix) dan kemudian densitas fluida. Dengan demikian kita dapat mengaplikasikan persamaan dari buku Pak Rider diatas untuk mengestimasi nilai densitas batuan reservoir yang akan kita teliti.  
Densitas Matrix itu apa sih? 
Keanu Reeves itu bukan ?
Bukan... itu The Matrix (pfffft... jayus pol), densitas matrix itu adalah densitas dari grain/butiran butiran sedimen yang terdapat pada batuan reservoir tersebut. 
Terus bagaimana cara dapet nilai Densitas Matriks itu ?
Nah, ini yang agak tricky... kita harus paham dulu petrologi dan mineralogi (tsaaaah... )
Untuk menentukan nilai matriks kita bisa menggunakan pendekatan petrologi, dalam hal ini kita harus punya sampel batuan tersebut dan kemudian melakukan analisis petrografi agar kita dapat melihat mineral apa saja yang mengisi batuan tersebut. Dengan mengetahui jenis-jenis dan prosentase dari mineral-mineral tadi, kita dapat mengestimasi nilai densitas rerata dari berbagai macam mineral tersebut secara proporsional. 
 Ada juga cara lain, yaitu menggunakan metode Crossplot . Metode crossplot ini lebih praktis dalam analisisnya, namun banyak terdapat bias dan membutuhkan insting dan pemahaman yang kuat. Metode crossplot adalah pengambilan nilai dari suatu parameter berdasarkan dua atau lebih parameter yang berhubungan dan saling disilangkan.
Misalnya : Untuk menentukan tingkat kematangan buah mangga yg baik, kita harus mencocokkan antara ukuran buah, warna kulit, kekerasan buah, dan aroma yg tercium. Nah, jika semua mencapai kriteria maka dapat disimpulkan buah tersebut matang dengan baik. Vice versa.
Jika kita ambil contoh praktek dari metode crossplot dalam penentuan densitas matrix atau fluida, maka parameter yg digunakan bisa saja : Log Sinar Gamma (GR), Log Kaliper, dan Log Densitas itu sendiri. 
Gambar 3 : contoh crossplot antara log GR, Densitas dan Caliper
 Jika teman-teman perhatikan gambar diatas (3A), kita dapat menentukan nilai dari suatu parameter (dalam hal ini densitas matriks) dengan terlebih dahulu menentukan kriteria dari masing-masing parameter yg digunakan sebagai acuan. Dalam hal ini kita mengambil contoh : Kita akan menentukan matriks batupasir kuarsa, kriteria acuannya yaitu Log GR harus lebih kecil dari 25 GAPI (panah biru -misalnya), kemudian Log densitasnya berada di kisaran nilai 2,45 - 2,65 gr/cc (panah hijau -misalnya) dengan kaliper yang baik (tidak washout dsb, lebih baik jika terlihat mudcrack). Nah, jika semua parameter tersebut terpenuhi maka, nilai yg didapat pada crossplot bisa dianggap nilai yg sesuai (panah merah). 
Beberapa sampel nilai parameter ke-densitas-an dari beberapa mineral yg umum
(Crain Petrophysical Online Book)

 2. Porositas dari Log Densitas dan Log Neutron

Dalam beberapa kesempatan saya membaca beberapa literatur dan tulisan ilmiah yang menggunakan metode kombinasi log densitas-neutron untuk mengestimasi nilai porositas. Hal ini dikarenakan adanya kesalahan relatif dalam penentuan porositas dari log densitas, alhasil sebagian ilmuwan percaya bahwa dengan mengkombinasikan kedua log ini, dapat diperoleh estimasi yang lebih baik. 
Misalnya : 
sumber : Handbook kuliah GMB (2013)
Namun selain persamaan diatas, masih banyak metode kombinasi log densitas dan log neutron, seperti yang dikembangkan oleh Bateman dan Konen tahun 1977.

begitulah secara singkat cerita tentang interpretasi kualitatif dari Log Densitas dan Log Neutron.
Selamat belajar :D




Sabtu, 25 Oktober 2014

Interpretasi Well Log [Bagian 6] - Log Densitas & Log Neutron [Bagian 1]


Setelah sekian lama nggak nulis di blog ini, saya mau melanjutkan cerita saya tentang bagaimana dasar-dasar seorang geosaintist melihat dan menerjemahkan data log (wireline log). 
Sebelumnya saya sudah bercerita sampai ke Log Tahanan jenis atau Log Resistivitas. nah, pada tulisan ini saya akan sedikit bercerita tentang dasar-dasar log densitas dan log Neutron. 



Pasti teman-teman pembaca sekalian bertanya-tanya (????) kenapa pembahasan log densitas dan log neutron saya jadikan satu tulisan (?), (Kenapa hayoooooo)
oke, kita simak aja tulisan dibawah ini yaa :)



Pernah liat kan CROSS-OVER seperti ini ???

Apa sih log densitas itu ?
teman-teman pasti pernah mendengar kata densitas. ya, mirip dengan massa jenis. Densitas adalah suatu besaran yang mendeskripsikan seberapa padat suatu material (dalam bahasan ini jelas BATUAN yang dimaksud). 1 meter kubik batubara, massa nya akan lebih ringan dibanding 1 meter kubik batu granit. tentu saja karena adanya perbedaan densitas. 
Nah, Log densitas jadi apa?
Pada prinsipnya log densitas bertujuan mengetahui variasi perubahan densitas batuan yang ada di sepanjang lubang bor. Namun, pengukuran densitas yang dilakukan bersifat tidak langsung, melainkan nilai densitas yang didapat merupakan hasil perhitungan dan transformasi dari besaran yang didapat sebelumnya. Jadi, nilainya bukan densitas mutlak. 

Bagaimana ceritanya kok bisa disebut 'bukan densitas mutlak' ?
Jadi begini, akuisisi log densitas dilakukan dengan prinsip absorpsi (penyerapan) energi dari partikel foton yang berhamburan dari material radioaktif (sebagai source/transmitter sinar gamma). Siapa yang menyerap? Pada saat foton berhamburan dari transmitter, partikelnya akan diserap oleh elektron-elektron yang ada di formasi/batuan. Elektron-elektron tersebut berasal dari kandungan kimia mineral-mineral penyusun batuan/formasi tersebut. 
 Lantas apa hubungannya tumbukan partikel foton dengan elektron terhadap densitas yang terbaca?
Nah, komponen pendeteksi dari alat log densitas akan membaca berapa banyak foton setelah waktu penyerapan (selama perjalanan dari transmitter). Jumlah foton yang terbaca inilah yang akan ditransformasikan sebagai ekuivalensi densitas dari batuan yang dideteksi. semakin banyak foton yang kembali ke detektor, artinya formasi tidak mampu 'menghancurkan' si foton tersebut, jadi dengan kata lain : semakin sedikit foton yang dibaca di detektor menunjukkan semakin padatnya (dense) si batuan tersebut.
jadi, yang dibaca sebenarnya bukan densitas batuan melainkan densitas elektron yg ada di batuan tersebut.
lalu bagaimana hubungan antara densitas elektron di batuan dengan densitas bulk batuan yang selama ini kita kenal sebagai produk dari akuisisi log densitas?

(sumber : materi course Well Log analysis oleh Mas Ari, GF UGM 2007)

Sebagaimana yang ada digambar diatas, densitas elektron akan sebanding dengan densitas bulk dikalikan dengan dua kali nomor atom dibagi massa atom. Pada sebagian kasus akan ditemui bahwa faktor pengalinya akan bernilai sama dengan 1. So, densitas elektron akan mendekati densitas bulknya. Tapi ini bukan suatu generalisasi yaaaa :D 
kalo kalian masih penasaran tentang penjelasan rumus di gambar diatas, teman-teman bisa melihat di buku "Well Logging for Earth Scientist" (Darwin & Ellis), ada di bab 12 halaman 290. 

 Terus, Log Neutron itu apa? Sama nggak sama Jimmy Neutron ? atau tempat bimbel ?
(agak jayus yah... krik krik..)

Log neutron atau biasa kita kenal dalam dunia petrofisika dan evaluasi formasi sebagai log NPHI (dibaca : en - phay) atau Neutron Porosity Log.
Wah hebat dong kita bisa langsung tahu besarnya porositas dari batuan disepanjang lubang bor?
Nanti dulu... sebelumnya kita harus tau, darimana asalnya nilai porositas yang didapat si alat Log neutron tersebut.
Jadi, begini ceritanya...
Sama hal nya dengan log densitas, log neutron juga tidak membaca nilai porositas mutlak dari suatu batuan, melainkan banyaknya jumlah hidrogen semu yang ada di formasi. Nah, hidrogen ini kan salahsatu unsur yang paling banyak ditemui dalam molekul fluida (air, gas maupun minyak), jadi sudah jelas bahwa ketiga jenis fluida tersebut akan menempati pori-pori batuan yang porous. 
 Bagaimana bisa neutron mengetahui jumlah hidrogen di satu batuan?
Nah, akusisi log neutron ini menggunakan prinsip tumbukan antara partikel neutron dengan atom Hidrogen. Setiap energi yang dimiliki oleh partikel neutron yang ditransmisikan ke formasi/batuan akan diserap saat neutron bertabrakan dengan atom Hidrogen. Sehingga semakin besar energi yang dibaca detektor neutron di alat akan menunjukkan bahwa kandungan hidrogen pada batuan tersebut semakin sedikit. Jadi jumlah energi/neutron yang terbaca di detektor akan berbanding tebalik dengan jumlah atom hidrogen di batuan/formasi dan jumlah hidrogen tersebut akan sebanding dengan besar ruang pori (yang mungkin) ditempati oleh si hidrogen tersebut. 
  
Alat logging untuk Log Neutron (dari buku yang sama)
Dalam bidang studi Analisis data log dan evaluasi formasi penggunaan kedua log diatas akan saling dikombinasikan untuk mendapatkan nilai estimasi porositas yang sebenarnya. Karena keduanya masih sama-sama memilki kekurangan dalam menurunkan nilai porositas, maka terkadang dalam kondisi tertentu, juga dikombinasikan dengan log sonic / DT log.

Oke, biar nggak bingung dan tetap penasaran dengan hal-hal berbau logging, ceritanya sampai disini dulu. nanti akan dilanjut dibagian kedua :D


 

Sabtu, 10 Mei 2014

Interpretasi Well Log (Bagian 5) - Log Tahanan Jenis (Bagian 2)

Pada postingan sebelumnya saya telah bercerita tentang apa itu log tahanan jenis sampai ke lingkungan akuisisi data log nya. pada bagian kedua saya akan melanjutkan ke bagian interpretasi :D
check this out!

Bagaimana bentuk data Log tahanan jenis ?
Secara umum, alat logging untuk log tahanan jenis akan mengambil data pada setiap zona (Flushed-Transisi/Annulus-Uninvaded). Masing-masing zona akan memiliki bacaan nilai tahanan jenisnya sendiri. Berangkat dari situlah kita dapat menginterpretasi zona-zona mana yang permeabel hingga mempediksi fluida yang mengisi zona tersebut.  
Gambar (1) Contoh type log Tahanan jenis
(sumber : Schlumberger Interpretation Principles&Application, 1989)

Bagaimana interpretasinya ?

Oke, sebelum masuk ke interpretasi (kualitatif maupun kuantitatif) ada baiknnya kita mengenali zona-zona yang menarik dari data log tahanan jenis terlebih dahulu :D


Pertama, zona tahanan jenis rendah, zona tahanan jenis rendah kerap kali disebabkan karena adanya saturasi brine water atau clay/shale bound water. Brine water ini biasanya identik dengan air formasi yang memiliki salinitas tinggi, sehingga sangat memungkinkan jika nilai tahanan jenisnya sangat kecil, biasanya dijumpai pada formasi yang permeabel (ada separasi antara log tahanan jenis shallow-medium-deep). Sedangkan Shale/clay bound water adalah fluida yang terjebak dalam claystone/batulempung atau shale. Karena batuan tersebut tidak permeabel, maka tidak akan dijumpai separasi antara log tahanan jenis shallow-medium-deep. 

Gambar (A) Zona Tahanan jenis rendah pada zona tidak permeabel. 
Gambar (A) menunjukkan zona clay/shale dimana pencirinya adalah nilai log gamma ray yang tinggi dan tidak adanya separasi antara log tahanan jenis shallow-medium-deep. Artinya adalah zona tersebut bukanlah zona permeabel, dan fluida yang mengisi adalah shale/clay bound water.

Gambar (B) Zona Tahanan jenis rendah pada zona permeabel.
Gambar (B) menunjukkan adanya zona permeabel dengan saturasi fluida brine, ditandai dengan nilai log gamma ray yang rendah dan adanya separasi antara log tahanan jenis shallow-medium-deep serta nilai pembacaannya yang kecil. 

Kedua, zona tahanan jenis tinggi. Zona tahanan jenis tinggi terbagi menjadi dua (sama seperti tahanan jenis rendah). Yang pertama adalah zona permeabel yang tersaturasi hidrokarbon, dan yang kedua adalah zona impermeabel yang merupakan lapisan batubara/coal. 

Gambar (C) Zona Tahanan jenis tinggi pada lapisan batubara/coal
Gambar (C) diprediksi adalah lapisan batubara dengan ciri type log gamma ray nya yg mencuat rendah secara tiba-tiba kemudian tinggi lagi (shale-coal-shale, biasanya seringkali muncul pada lingkungan pengendapan transisi/delta) dengan tidak adanya separasi antara  log tahanan jenis shallow-medium-deep dengan nilai tahanan jenis deep yang relatif lebih tinggi. Pada interpretasi zona/lapisan coal perlu diperhatikan efek tahanan jenis tinggi yang muncul akibat terjadinya caving pada lubang bor, sehingga jangan lupa di cek kembali log calipernya. 
Gambar (D-1) Zona Tahanan jenis tinggi pada lapisan permeabel tersaturasi hidrokarbon

Gambar (D-2) Zona Tahanan jenis tinggi pada lapisan permeabel tersaturasi hidrokarbon
 Gambar (D) dapat diinterpretasikan sebagai zona permeabel dengan saturasi hidrokarbon. hal ini diindikasikan dengan nilai log gamma ray yang relatifrendah dan adanya separasi  antara  log tahanan jenis shallow-medium-deep, serta bacaan yang relatif cukup besar.
Nah, sudah ada pencerahan kan dalam interpretasi log tahanan jenis ?

Bahan bacaan :
Schlumberger Interpretation Principles&Application, 1989
Malcolm Rider, The Geological Interpretation of Well Logs 2nd Edition, 2000
dll.

Kamis, 08 Mei 2014

Interpretasi Well Log (Bagian 5) - Log Tahanan Jenis (Bagian 1)

Mari kita lanjutkan bahasan tentang interpretasi well log :D
Pada postingan kali ini saya akan membahas mengenai log tahanan jenis/log resistivitas/resistivity log.
Log tahanan jenis ini adalah salah satu data log yang sangat vital keberadaannya dalam evaluasi sumur.
Kok bisa ?
yaiyalah... mau tau kenapa ? mari kita lanjutkan :D


Apa sih tahanan jenis itu ?
Mungkin sebagian dari kita sudah mengenal yang namanya RESISTOR ya :D
sebagian dari kita yang sudah mengenyam mata pelajaran elektronika dasar, dari zaman SMP, SMA hingga berpusing-pusing ria di bangku kuliah dan belajar tentang fisika elektronika dan sejenisnya pasti mengenal komponen elektronika yang satu ini. Tahanan jenis dalam arti fisis berarti nilai dari ketahanan suatu medium untuk menghambat aliran listrik yg mengalir melewatinya. Nilai tahanan jenis suatu medium sudah tidak terpengaruh bentuk, ukuran, dan posisi medium. 
Resistor dengan gelang warna
(sumber : Wikipedia)

Bagaimana akuisisi log tahanan jenis ?
Proses akuisisi data log tahanan jenis terbagi menjadi 2, berdasarkan jenis alat dan prinsip kerja yang digunakan yaitu, Laterolog dan Log Induksi . Apa perbedaannya ?
Laterolog itu mirip dengan akusisi metode geolistrik konfigurasi wenner/dipole-dipole. Secara prinsip adalah dengan menginjeksi arus dari elektroda arus/transmitter kedalam dinding lubang bor dan membaca beda potensial pada elektroda potensial/receiver.
Sedangkan log induksi mirip dengan akuisisi metode EM, gelombang EM yang kita ciptakan akan menginduksi medium pada dinding lubang bor dan menimbulkan adanya medan EM sekunder atau Arus Eddy. Medan listrik dan medan magnet yang terbaca akan mewakili medium yang terinduksi. Mirip dengan teori tentang Cagniard resistivity, kita dapat menurunkan besaran tahanan jenis dari gelombang EM. 
Skema alat Log Tahanan jenis dengan metode Log Induksi
(sumber : Doll (1949) dalam Ellis dan Singer, 2008)

Apa bedanya antara Laterolog dan Log Induksi ?

Dari hasil yang didapat secara umum sama. hasil dari kedua jenis alat log tahanan jenis tsb adalah data nilai tahanan jenis dari 3 zona medium (lapisan batuan/formasi) disepanjang lubang bor. Munculnya ide untuk menggunakan induksi EM adalah saat perusahaan jasa logging pada masa itu menemukan zona yg punya tekanan formasi sangat kuat, sehingga dibutuhkan lumpur pemboran yg dapat menahannya. Maka, digunakanlah lumbur dengan base oil. Kekurangannya dibanding water base mud adalah, mud cake akan punya tahanan jenis sangat tinggi, sehingga penetrasi arus laterolog akan tidak maksimal, maka muncullah alat log baru "Log induksi" .
tapi dimasa modern, bukan tidak mungkin penggunaan alat tersebut telah banyak mengalami peningkatan teknologi, sehingga keperluannya lebih ke urgensi data dibanding dari prinsip alatnya.
udah jelas kan perbedaannya ??? :D


Bagaimana lingkungan akuisisi datanya ?
Inilah bedanya log tahanan jenis dengan log lainnya.
Log tahanan jenis mengakuisisi data sepanjang lubang bor dengan bantuan filtrasi lumpur pemboran. Karena selama proses pengeboran lumpur akan masuk ke zona-zona permeabel, sehingga akan terbentuk kerak lumpur (mud cake) yang bisa juga digunakan sebagai indikator zona permeabel. Akibatnya, pembacaan log tahanan jenis akan terbagi menjadi zona-zona berdasarkan kedalaman penetrasi arus dan bidang ekuipotensialnya. Pada lapisan permeabel, bidang ekuipotensial tersebut terbagi menjadi 3 (secara umum, ada juga yg bilang 4 berdasarkan jenis fluida yg mengisi) :

Zonasi akibat filtrasi lumpur pemboran
(sumber : Schlumberger Log Interpretation)


  1. Zona Flushed , pada zona ini hampir semua fluida asli penghuni formasi telah tergantikan oleh filtrasi lumpur pemboran. akibatnnya yang tebaca adalah tahanan jenis kerak lumpur. Pada zona yang mengandung hidrokarbon, efek residual hidrokarbon juga akan sedikit terbaca pada nilai tahanan jenis pada zona ini. 
  2. Zona Transisi, pada zona ini pembagian fluida adalah (nyaris) 50-50. sehingga mulai muncul efek dari keberadaan fluida formasi yang sebenarnya. 
  3. Zona Uninvaded/Tak terinvasi, pada pembacaan log tahanan jenis zona inilah kita dapat menginterpretasi fluida formasi yang sebenarnya. Tahanan jenis yang besar pada zona permeabel untuk bacaan log ini bisa mengindikasikan adanya hidrokarbon yang tersaturasi. 
Bersambung ke bagian 2 :D

bahan bacaan :
Ellis & Singer, 2008, Well Loging for Earth Scientist.

Rabu, 30 April 2014

Interpretasi Well Log (Bagian 4) - Log Sinar Gamma / Gamma Ray Log

Assalamu'alaikum!
Setelah sekian lama seri tulisan ini tertunda, saatnya saya lanjutkan cerita-cerita tentang interpretasi well log.
Seri kali ini adalah tentang Log Sinar Gamma, atau bahasa keren-nya adalah Log Gamma Ray (GR Log).
:D

Apa itu Log Gamma ray ?
Log gamma ray itu adalah salah satu jenis data log sumur yang isi datanya adalah rekaman jumlah material radioaktif yang berukuran sangat kecil yang ada dalam suatu lapisan batuan/formasi dalam lubang bor.

Kok bisa ada material radioaktif disana ?



 eittss, bukan radioaktif yg kaya di Chernobyl gitu ya... 
Jadi, di alam semesta ini kan banyak tuh unsur-unsur yang punya tingkat kestabilan isotop yang beda-beda. Setiap unsur yang tidak stabil bakalan berusaha buat men-stabil-kan diri mereka masing-masing dengan cara memancarkan energi dari dalam atomnya, nah pasti masih inget kan sinar alpha ,beta, gamma, dan teman-temannya? iya itu... mereka itu ada di batuan-batuan yang memiliki mineral-mineral dengan unsur logam-logam yang tidak stabil itu (biasanya sih batuan beku). 
Nah, sewaktu proses sedimentasi berlangsung, sebagian unsur-unsur radioaktif itu ikut tersedimentasi bersama 'rombongan' material klastika lainnya. Ukuran unsur-unsur radioaktif itu berada pada kisaran lanau sampai lempung. Kecil kan ? *ya iyalah*

Gimana cara ngambil datanya ?
Jadi, dalam kegiatan logging, dikenal alat yang namanya "Gamma Ray Scintillator Detector" .
alat tadi itu menangkap sinar radioaktif yang dipancarkan oleh unsur Potasium (K), Thorium (Th) dan Uranium (U) secara bersamaan dengan besar spektrum berkisar antara 0 hingga 3 MeV.
(Skema alat logging Natural Gamma Ray)
(sumber : Serra, 1984)

Sinar radioaktif tersebut akan ditangkap oleh sensor berupa kristal sintilator yang dilengkapi dengan penguat berupa photo multipler untuk menguatkan pancaran energi radioaktivitas. Energi yang terkumpul pada selang waktu pengukuran adalah nilai pembacaan log sinar gamma pada satu sampel pengukuran.Bingung kan ?*sama :'( 
Terus, Buat apa sih Log Gamma Ray itu ?
Dalam kegiatan evaluasi formasi (apa lagi itu?  --" hahaha), nilai yang terbaca sebagai log gamma ray ini digunakan sebagai 'alat' untuk menginterpretasikan jenis litologi sepanjang lubang bor. 
Kok bisa? 
Ya balik lagi ke atas, pada proses sedimentasi material akan terdeposisi berdasarkan ukuran butir. Saat energi transportasi masih cukup besar, 'rombongan' sedimen klastika akan diendapkan bertahap dari yang butirannya paling besar, sampai pada saat energi transportasi sudah hampir habis. Pada saat 'sekarat' energinya maka pada waktu itulah sebagian besar klastika lanau-lempung bersama dengan unsur-unsur radioaktif yang ada didalamnya akan diendapkan membentuk batulanau dan batulempung. 
Jadi, gak ada unsur radioaktif di batupasir / konglomerat/ Batugamping?
ya tetap ada... tapi jumlahnya gak sebanyak batulempung/batulanau/serpih..

Makanya, log gamma ray ini (lumayan) peka terhadap perubahan litologi. Jadi banyak digunakan sebagai parameter untuk quicklook zona yang prospek sebagai reservoir (ya minimal nyari batupasir / batugamping dulu lah...hahaha...)


Interpretasi kualitatif Log Gamma Ray 
(sumber : Rider, 2002)

Nah, itu dulu ya cerita tentang interpretasi Log Gamma ray nya... 
kalo masih kurang bingung, silahkan baca buku-buku dibawah ini aja, siapa tau bisa tambah bingung :D
Sekian dulu, sampai jumpa di seri berikutnya :D

sumber bacaan :
Rider, 2002, Geological interpretation of Well logs
Serra, 1984, Fundamental of Well log interpretation

Jumat, 05 Juli 2013

Interpretasi Well Log (bagian 3) - SP Log

SP Log itu apa ?
SP log atau Spontaneous Potensial log adalah salah satu teknik logging tertua yang diciptakan oleh Pak Conrad Schlumberger dan teman-temannya. SP log ini prinsip dasarnya adalah pengukuran nilai beda potensial yang timbul antara larutan fluida dari formasi (bisa fresh water, bisa saline water bisa juga oil) yang bercampur dengan mud filtrate terhadap sebuah referensi/sistem pengacu yang diletakkan di permukaan, biasanya sistem ini berisi drilling mud yang masih 'murni'. 

Gambar 1 : Sistem rangkaian peralatan SP Log secara umum
M1 dan M2 bertindak sebagai elektroda pengukur potensial, M2 sebagai acuan
(Rider, 2000)

Buat apa kita ngukur SP log ?
Menurut Pak Asquith dan Pak Krygowski di bukunya : secara garis besar, hasil pengukuran SP Log ini dapat diinterpretasikan untuk berbagai keperluan, diantaranya : 
1. Mendeteksi lapisan-lapisan yang permeabel
2. Mendeteksi batas-batas antara lapisan permeabel dengan yang tidak permeabel
3. Mencaritau nilai resistivitas air formasi 
4. Mencaritau nilai volume shale (Vsh) dari suatu lapisan reservoir 
Dan masih ada lagi yang lainnya (silahkan dibaca sendiri dibukunya Pak Rider atau Pak Asquith :p) 

Gambar 2 : Interpretasi kualitatif dari SP log sebagai penetuan permeabilitas lapisan
(Rider, 2000 digambar ulang dari Pirson, 1963)


Sebagian besar interpreter dalam ranah eksplorasi oil & gas hasil SP log ini dapat dijadikan indikasi kualitatif untuk menentukan mana reservoir, mana yang bukan reservoir. Penggunaan lain yang sifatnya kualitatif  adalah menentukan shale baseline dan SSP (Static Spontaneous Potensial)
Apa itu SSP ?
SSP atau Static Spontaneous Potensial adalah nilai SP yang tertinggi atau terendah yang dihasilkan antara suatu lapisan permeabel dibawah sana (dalam lubang bor tentunya) dengan acuan yang nilainya kemudian statis, gak bisa naik lagi atau gak bisa turun lagi. Mentok. pada lapisan shale yang tebal biasanya SSP ini akan muncul sebagai nilai SP log yang gak bergeser signifikan (cenderung stabil) , Defleksi maksimum nilai SSP harus diukur dari formasi yang bersih dari shale (biasanya dari lapisan clean sand yang cukup tebal). Nilai SSP sendiri dirumuskan sebagai (Rider,2000) :
dimana (Rmf)e adalah ekuivalensi resistivitas mud filtrate yang nilainya sebanding dengan resistivitas mud filtrate dan (Rw)e adalah ekuivalensi resistivitas air formasi yang nilainya sebanding dengan resistivitas air formasi. K adalah nilai koefisien kompensasi dari pengaruh temperatur lubang bor (nilainya didapat dari BHT log). 
Nantinya, setiap interpretasi nilai SP log akan mengacu pada shale baseline tersebut, bisa sebagai nilai tertinggi atau terendah. Defleksi SP log yang negatif akan menandakan bahwa fluida dari formasi lebih besar salinitas nya dibandingkan mud filtrate, sebaliknya.. jika terjadi defleksi positif pada nilai SP log ini artinya fluida dari formasi nilai salinitasnya lebih kecil dari mud filtrate. Lha, kalau tidak ada defleksi sama sekali berarti resistivitas air formasinya sama dengan resisitivitas mud filtrate.  
Berikut adalah beberapa karakteristik SP log (Rider, 2000):

Gambar 3 : Karakteristik respon SP log pada beberapa kondisi 
(Rider ,2000)

Selain SSP ada juga PSP, apaan lagi tuh PSP ?
PSP adalah Pseudostatic Spontaneous Potensial, PSP ini nilainya adalah pada defleksi positif yang paling tinggi dari formasi yang shaly . PSP ini nanti akan berguna dalam analisis petrofisika untuk menghitung volume shale dalam suatu reservoir. 
Apa itu volume shale ? nanti akan dibahas di tulisan-tulisan berikutnya ya. hehe..

Penggunaan lain SP log selain untuk penentuan lapisan reservoir dan non reservoir (dari permeabilitas) adalah untuk identifikasi mineral, penentuan fasies dan korelasi geometri reservoir secara kualitatif. 

Kok bisa identifikasi mineral segala ?
Iya, soalnya pada beberapa mineral yang reduktif maupun yang secara kimiawi sifatnya oksidatif yang pada kondisi bawah permukaan belum mencapai kesetimbangan elektrisitas (Hallenburg, 1978) yang biasanya mineral-mineral ini ada pada sandstone atau shale. atau pada batubara yang kadang memberikan nilai defleksi negatif yang kadangkala pun menunjukkan respon yang mirip shale. Namun untuk identifikasi mineral ini harus dikorelasikan dengan hasil logging lainnya. 

Sementara untuk penentuan fasies saat ini SP log sudah mulai tergantikan oleh Gamma Ray Log. Sedangkan untuk korelasi geometri reservoir tentunya harus dikorelasi dengan nilai SP log di sumur lainnya. 

Gambar 4 : Korelasi reservoir channel sand kompleks dengan SP Log
(Rider, 2000)

Referensi :
Rider, M., 2000, Geological Interpretation of Well Logs
Asquith & Krygowski., 2004, Basic Well Log Analysis 2nd Edition






Kamis, 20 Juni 2013

Interpretasi Well Log (Bagian 2) - Caliper Log

Baiklah, di postingan kali ini saya akan melanjutkan cerita tentang interpretasi geologi mendasar dari logging. khusus kali ini saya akan membahas mengenai mechanical log / log mekanik atau biasa dikenal sebagai Caliper log. 

Apa itu Caliper Log ?
Sederhananya, Log Caliper / Caliper Log itu adalah pengukuran variasi diameter lubang bor saat borehole masih dalam open case (jelas lah... haha)
Kan saat drill bit masuk mulai melakukan aktivitas pengeboran, tentunya akan ada respon yang berbeda dari tiap litologi saat 'diterobos' oleh drill bit. ada yang sulit (alias keras/hard rock), alhasil nanti lubang bor yang dihasilkan akan sempit. sebaliknya, jika batuan yang dibor adalah batuan yang lunak, maka jelas sudah hasil lubang bornya akan lebar. 
Bentuk Alat loggingnya gimana sih ?
Gambar 1A : Ilustrasi bentuk log mekanik (Log Caliper) 
(Serra, 1979 diambil dari Rider, 2008)

Gambar 1B : Multi-Finger Caliper Tool


Fungsinya Caliper Log itu apa ?
Fungsinya ya untuk interpretasi geologi, khususnya ke arah penentuan reservoir dan non-reservoir, Quality control dan penentuan permeabilitas batuan secara kualitatif.
Dalam Log Caliper nantinya dikenal istilah-istilah sebagai berikut :
  • Caving
  • Mud Cake
  • Sloughing 
  • On Gauge
apa itu caving ? 
Caving adalah diameter yang besar yang dihasilkan saat drill bit menerobos batuan yang lunak, misalnya coal, shale atau batulempung atau batuan lain yang lunak secara fisik. Batuan lunak tersebut kan mudah patah dan runtuh, nah saat si drill bit itu membor bagian litologi tersebut hasilnya ya akan ada cave atau caving. Nah, mud drilling nanti akhirnya juga akan mengisi bagian caving ini.

Mud cake itu apa ? 
Mud cake itu biasanya terjadi saat drill bit melewati batuan permeable yang kaya fluida (air formasi biasanya). Mud cake terbentuk saat lumpur pengeboran (drilling mud) bertemu dengan air formasi dan kemudian menempel di batuan permeabel tersebut sehingga terbentuk mud cake / kue lumpur (bukan kue lumpur yg biasa dimakan ya :p) , hasilnya diameter lubang bor akan menyempit pada bagian ini.

Sloughing ?
atau mudahnya kita sebut dengan "tonjolan" , biasanya disebabkan karena batuan yang sangat masif. Sloughing ini akan dengan cepat kita kenali dengan adanya penyempitan diameter borehole. Sloughing adalah salahsatu yang dihindari saat pengeboran. 

On Gauge ?
Nah,on gauge ini adalah kondisi dimana diameter lubang bor = diameter drill bit. On Gauge ini yang nantinya agak sulit untuk diinterpretasi karena gak muncul kenampakan khusus di hasil caliper log-nya.
Biar lebih jelas, nih ilustrasi dari Pak Rider (2008) :
Gambar 2 : Kenampakan khas dari respon Caliper Log
(Rider, 2008)

Bagaimana menginterpretasi Caliper Log ?
Interpretasi dasar dari respon log caliper ini biasanya digunakan dalam penentuan batuan reservoir dan non-reservoir. 
Misalnya : 

Gambar 3 : Respon log caliper pada shale (Rider, 2008)

Pada Shale, respon Caliper log biasanya akan nampak sebagai peningkatan diameter borehole, atau dikenal dengan caving. Dengan mengkorelasikan terhadap log Gamma Ray (GR) , akan semakin jelas jika terdapat anomali naik untuk diameter borehole dimana nilai log GR besar, maka dapat diinterpretasikan secara kualitatif sebagai lapisan shale. Kok bisa ? 
(Log Gamma Ray nanti dibahas selanjutnya ya.. :D) 

Nah, bagaimana untuk Quality Control (QC)
QC untuk apa ? 
QC disini adalah pemantauan dari hasil caliper log untuk logging selanjutnya (Rahmadi Hidayat, 2013) , misalnya Logging yang memanfaatkan radioactive yang biasanya dilakukan setelah borehole di casing. 
Mengapa ? 
Jika, muncul anomali kasar (naik-turun) perubahan nilai diameter borehole, maka secara kualitatif dapat dinyatakan bahwa logging selanjutnya perlu perlakuan khusus. karena untuk beberapa logging yang menempel pada dinding lubang bor (seperti : Netron porosity, Densitas dan Mikroresistivitas) akan sangat berbahaya jika dilakukan pada dinding lubang bor yang kasar. Responnya akan sulit dianalisa, karena dalam logging yang sifatnya induktif maupun radioactive, kita akan mengenal area-area logging yang disebut dengan : Flushed Zone, Invaded Zone dan Uninvaded Zone. khusus untuk log resistivitas dan SP dapat dijadikan koreksi terhadap datanya yang akan terpengaruh oleh mud cake, seberapa tebal mud cake dan seberapa tipis dalam mud cake-nya.   
(dijelaskan nanti ya :D)

Penentuan Lapisan Reservoir 
Nah, ini salahsatu kegunaan penting caliper log. Caliper log dapat digunakan sebagai panduan kualitatif dalam menentukan mana reservoir (lapisan permeabel) dan non reservoir (lapisan impermeabel).
Masih ingat mud cake ? 
Ya, penyebab mud cake itu kan adanya lapisan permeabel (banyak mengandung fluida) yang menjebak drilling mud sehingga membentuk mud cake di borehole. Keberadaan mud cake ini nanti akan terdeteksi oleh caliper log sebagai penyempitan lubang bor. Saat kita menginterpretasi log Gamma Ray, korelasi untuk menentukan reservoir dan non-reservoir adalah dengan Caliper Log. Nih, contohnya : 

Gambar 4 : Respon dari beberapa hasil logging, (lihat sebelah kiri) adalah 
korelasi antara log gamma ray dengan log caliper
(Courtesy of geophysics.geoscienceworld.org ) 

Saat nilai log Gamma Ray rendah (ciri-ciri sandstone) maka kita perlu melihat nilai log caliper. Jika saat GR rendah dan caliper rendah (menurun) maka dapat kita interpretasikan (awalan) sebagai lapisan reservoir. Sebaliknya, jika nilai gamma ray kecil namun tidak menunjukkan anomali penurunan nilai diameter borehole, maka belum tentu itu adalah lapisan reservoir. Bisa saja sandstone, namun masif sandstone atau shaly sandstone (hehe, imho lho ini :p)

Oke deh, sekian dulu. 
Mohon koreksinya ya, semoga bermanfaat hehe.. 

Sumber : Buku Interpretasi Geologi dari Well Log nya Pak Rider.









Kamis, 13 Juni 2013

Interpretasi Well Log (Bagian 1) - BHT Log (Bottom Hole Temperature Log)

Bukan mustahil kalau nggak ada teknologi logging dalam borehole, eksplorasi minyak dan gas tidak akan berkembang pesat seperti saat ini. Oke, dalam postingan kali ini saya ingin sedikit menuliskan kembali apa yang saya baca dari buku Pak Rider tentang Interpretasi Well Log, khususnya dalam bahasan geologi reservoir dan petrofisika. 

Awalan : 
Well log itu apa ? 
Secara mudah, well log itu adalah pengukuran / perekaman parameter-parameter geofisika pada suatu borehole (sumur pemboran) secara kontinyu sebagai fungsi kedalaman. Kadang orang teknis dalam dunia perminyakan menyebut continuous depth-related record sebagai wireline geophysical well logs. 
LWD atau kependekan dari Logging While Drilling adalah proses perekaman data log sumur bersamaan dengan proses pengeboran. Peralatan LWD terbagi menjadi 3 bagian : downhole logging sensors, data transmission systems dan surface interface. Logging sensor biasanya diletakkan tepat dibelakang drilling bit dan akan aktif saat drilling dilakukan. Kemudian sistem transmisi akan mengirimkan sinyal yang secara kontinyu di konversikan menjadi bentuk data digital dan ditransmisi permukaan bersamaan dengan drilling mud dan diterima oleh receiver di permukaan. Proses logging dilakukan sesaat setelah drilling, waktu perekamannya bervariasi, kadang sebentar (beberapa menit saja) kadang bisa sampai hitungan jam, bergantung pada drilling rate dan jarak antara drill bit dan downhole sensor. 

 Gambar 1 : Ini adalah bapak-bapak teknisi yang sedang melakukan LWD 
(Courtesy of : www.bakerhuges.com)



Secara umum, Jenis logging terbagi menjadi 4 macam :
1. Temperature Log
2. Induction Log
3. Radioactivity Log
4. Mechanical Log

Nah, yang saya akan bahas kali ini adalah tentang BHT (Bottom Hole Temperature)

BHT - Bottom Hole Temperature

Apa sih BHT itu ?
Secara harfiah, Bottom Hole Temperatur artinya adalah temperatur dasar lubang (lubang bor dalam hal ini). BHT adalah proses perekaman nilai temperatur dari formasi-formasi yang dilewati saat proses pengeboran. Saat proses perekaman nilai temperatur, nilai yang didapat bukanlah nilai asli dari temperatur formasi tersebut, perlu adanya koreksi (nanti dibahas dibawah ya :D) , Sebelumnya mari kita mengenal lebih dekat tentang Gradien geotermal. 
Jadi, dalam dunia kebumian kita pasti mengenal adanya Gradien Geothermal. Gradien geotermal itu sendiri adalah kenaikan suhu sebagai fungsi kedalaman, nilainya akan berbeda diseluruh belahan bumi. Lha, ini nanti yang mempengaruhi adanya initial temperature dari suatu formasi, Secara alamiah, batuan yang berada dibawah sedimen yang cukup tebal, akan memiliki temperatur yang cukup tinggi dibandingkan batuan yang berada di bawah sedimen yang tipis.
Gambar 2 : Gradien geotermal dalam interior bumi 
(courtesy of : http://www.mpoweruk.com)

Secara sederhana, Gradien geotermal dirumuskan sebagai (Rider, 2008)  :  

dimana : T surface = adalah rata-rata suhu di permukaan dimana untuk iklim tertentu nilainya akan berbeda. Iklim tropis (25 derajat celcius), iklim subtropis/temperate zones (15 derajat celcius), permafrost zones (-5 derajat celcius) dan di zona dingin (5 derajat celcius). Gradien geotermal juga dipengaruhi oleh nilai konduktifitas termal dari formasinya. sehingga, saat nilai konduktifitas termal tinggi, otomatis aliran panas akan cepat dihantarkan dan gradien geotermal di formasi tersebut akan bernilai tinggi. Berikut adalah nilai kisaran konduktifitas termal dari beberapa batuan (Serra,1979 dan Gerhart, 1983)
Tabel 1 : Tabel Konduktifitas termal beberapa batuan (Serra, 1979 dan Gerhart, 1983)

Tabel 2 : Gradien geotermal di beberapa cekungan sedimen (Rider, 2008)


Kegunaan BHT Log ini apa ?
Beberapa kegunaan BHT log diantaranya adalah (Rider, 2008) :

  • Menganalisis tingkat kematangan material organik pembentuk hidrokarbon, menurut Landes (1967) ada kaitan erat antara gradien termal, kedalaman dan tipe hidrokarbon yang dihasilkan. Sedangkan menurut Waples (1980) derajat kematangan hidrokarbon ditentukan oleh temperatur, tekanan dan waktu. Temperatur paling berpengaruh penting dalam pematangan, tapi waktu adalah faktor lain yang juga vital. Selain suhu,tekanan dan kedalaman faktor burial depth juga diperhitungkan.
  • Identifikasi area Overpressure. 
    • Jika borehole masuk ke overpressure shale, biasanya akan ditemui anomali kenaikan temperatur yang cukup tajam. Kok bisa ? karena adanya air formasi yang masuk dari overpressure shale ke borehole sehingga perbedaan suhu yang tercatat akan turun (lebih dingin) dari area disekitarnya. 
    • Jika ada aliran fluida (gas) yang masuk ke borehole, biasanya akan ditunjukkan oleh munculnya anomali temperatur yang juga menurun drastis, kenapa ? sama seperti diatas mekanismenya, hehe.
    • Selain itu, dapat juga digunakan sebagai identifikasi fraktur akibat tekanan air (hydraulic fractures) yang biasanya ditunjukkan oleh anomali penurunan temperatur setelah frakturing. Biasanya sih ini dianalisa setelah tahap perforasi, buat ngeliat efek dari perforasi itu. 
Gambar 3 : Grafik perubahan suhu pada log BHT akibat proses fracturing
Anomali dingin (penurunan suhu) nampak setelah fracturing akibat 
adanya borehole mud yang masuk ke rekahan
(Hill, 1990 dan Dobkin 1981)

  • Environmental correction, apa itu ? maksudnya adalah koreksi temperatur dibutuhkan saat sumur bor akan di logging dengan tipe induksi (induced logging) seperti log resistivitas. Kondisi harus pada keadaan standar yaitu 24 derajat celcius atau 75 derajat fahrenheit. 

Sekian tentang BHT Log, nanti disambung lagi tentang Log-log lainnya.
*cmiiw*
Sumber : Buku Interpretasi Geologi dari Well Log nya Pak Rider.